PERATURAN DIRJEN PAJAK
NOMOR PER-57/PJ/2009 TANGGAL 12 OKTOBER 2009
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-31/PJ/2009
TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK
PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PAJAK PENGHASILAN PASAL 26 SEHUBUNGAN DENGAN
PEKERJAAN, JASA, DANKEGIATAN ORANG PRIBADI
LAMPIRAN II
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-57/PJ/2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-31/PJ/2009 TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA CARA PEMOTONGAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PAJAK PENGHASILAN PASAL 26 SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN, JASA, DAN KEGIATAN ORANG PRIBADI
BAGIAN KEDUA : CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 DAN/ATAU PPh PASAL 26
V. CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH BUKAN PEGAWAI.
V.1. CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH BUKAN PEGAWAI YANG MENERIMA PENGHASILAN YANG BERSIFAT BERKESINAMBUNGAN.
V.1.a. Contoh penghitungan PPh Pasal 21 atas jasa dokter yang praktik di rumah sakit dan/atau klinik
dr. Abdul Gopar, Sp.JP merupakan dokter spesialis jantung yang melakukan praktik di Rumah Sakit Harapan Jantung Sehat dengan perjanjian bahwa atas setiap jasa dokter yang dibayarkan oleh pasien akan dipotong 20% oleh pihak rumah sakit sebagai bagian penghasilan rumah sakit dan sisanya sebesar 80% dari jasa dokter tersebut akan dibayarkan kepada dr. Abdul Gopar, Sp.JP pada setiap akhir bulan. Selain praktik di Rumah Sakit Harapan Jantung Sehat dr. Abdul Gopar, Sp.JP juga melakukan praktik sendiri di klinik pribadinya. dr. Abdul Gopar, Sp.JP telah memiliki NPWP dan pada tahun 2009, jasa dokter yang dibayarkan pasien dari praktik dr. Abdul Gopar, Sp.JP di Rumah Sakit Harapan Jantung Sehat adalah sebagai berikut:
Bulan
|
Jasa Dokter yang dibayar Pasien (Rupiah)
|
Januari
|
45,000,000.00
|
Februari
|
49,000,000.00
|
Maret
|
47,000,000.00
|
April
|
40,000,000.00
|
Mei
|
44,000,000.00
|
Juni
|
52,000,000.00
|
Juli
|
40,000,000.00
|
Agustus
|
35,000,000.00
|
September
|
45,000,000.00
|
Oktober
|
44,000,000.00
|
November
|
43,000,000.00
|
Desember
|
40,000,000.00
|
Jumlah
|
524,000,000.00
|
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk masa Januari sampai dengan Desember 2009:
Bulan
|
Jasa Dokter
yang dibayar
Pasien
(Rupiah)
|
Dasar
Pemotongan
PPh Pasal 21
(Rupiah)
|
Dasar
Pemotongan
PPh Pasal 21
Kumulatif
(Rupiah)
|
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh
|
PPh Pasal 21 terutang (Rupiah)
|
(1)
|
(2)
|
(3)=50%x(2)
|
(4)
|
(5)
|
(6)=(3) x (5)
|
Januari
|
45,000,000
|
22,500,000
|
22,500,000
|
5%
|
1,125,000
|
Februari
|
49,000,000
|
24,500,000
|
47,000,000
|
5%
|
1,225,000
|
Maret
|
47,000,000
|
3,000,000
|
50,000,000
|
5%
|
150,000
|
20,500,000
|
70,500,000
|
15%
|
3,075,000
| ||
April
|
40,000,000
|
20,000,000
|
90,500,000
|
15%
|
3,000,000
|
Mei
|
44,000,000
|
22,000,000
|
112,500,000
|
15%
|
3,300,000
|
Juni
|
52,000,000
|
26,000,000
|
138,500,000
|
15%
|
3,900,000
|
Juli
|
40,000,000
|
20,000,000
|
158,500,000
|
15%
|
3,000,000
|
Agustus
|
35,000,000
|
17,500,000
|
176,000,000
|
15%
|
2,625,000
|
September
|
45,000,000
|
22,500,000
|
198,500,000
|
15%
|
3,375,000
|
Oktober
|
44,000,000
|
22,000,000
|
220,500,000
|
15%
|
3,300,000
|
November
|
43,000,000
|
21,500,000
|
242,000,000
|
15%
|
3,225,000
|
Desember
|
40,000,000
|
8,000,000
|
250,000,000
|
15%
|
1,200,000
|
12,000,000
|
262,000,000
|
25%
|
3,000,000
| ||
Jumlah
|
524,000,000
|
262,000,000
|
35,500,000
| ||
Apabila dr. Abdul Gopar Sp.JP tidak memiliki NPWP, maka PPh Pasal 21 terutang adalah sebesar 120% dari PPh Pasal 21 terutang sebagaimana contoh di atas.
V.1.b. Contoh penghitungan PPh Pasal 21 atas komisi yang dibayarkan kepada petugas dinas luar asuransi (bukan sebagai pegawai perusahaan asuransi)
Neneng Hasanah adalah petugas dinas luar asuransi dari PT Tabarru Life. Suami Neneng Hasanah telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dan mempunyai NPWP, dan yang bersangkutan bekerja pada PT Kersamanah. Neneng Hasanah telah menyampaikan fotokopi kartu NPWP suami, fotokopi surat nikah dan fotokopi kartu keluarga kepada pemotong pajak. Neneng Hasanah hanya memperoleh penghasilan dari kegiatannya sebagai petugas dinas luar asuransi, dan telah menyampaikan surat pernyataan yang menerangkan hal tersebut kepada PT Tabarru Life. Pada tahun 2009, penghasilan yang diterima oleh Neneng Hasanah sebagai petugas dinas luar asuransi dari PT Tabarru Life adalah sebagai berikut:
Bulan
Komisi agen (Rupiah)
Januari
|
38.000.000,00
|
Februari
|
38.000.000,00
|
Maret
|
41.000.000,00
|
April
|
42.000.000,00
|
Mei
|
44.000.000,00
|
Juni
|
45.000.000,00
|
Juli
|
45.000.000,00
|
Agustus
|
48.000.000,00
|
September
|
50.000.000,00
|
Oktober
|
52.000.000,00
|
November
|
55.000.000,00
|
Desember
|
56.000.000,00
|
Jumlah
|
554.000.000,00
|
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari s.d. Desember 2009 adalah sebagai berikut:
Bulan
|
Penghasilan Bruto (Rupiah)
|
50% dari Penghasilan Bruto
|
PTKP (Rupiah)
|
Penghasilan Kena Pajak (Rupiah)
|
Penghasilan Kena Pajak Kumulatif (Rupiah)
|
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh
|
PPh Pasal 21 terutang (Rupiah)
|
(1)
|
(2)
|
(3)=50%x(2)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
(7)
|
(8)=(5) x (7)
|
Januari
|
38.000.000
|
19.000.000
|
1.320.000
|
17.680.000
|
17.680.000
|
5%
|
884.000
|
Februari
|
38.000.000
|
19.000.000
|
1.320.000
|
17.680.000
|
35.360.000
|
5%
|
884.000
|
Maret
|
41.000.000
|
20.500.000
|
1.320.000
|
14.640.000
|
50.000.000
|
5%
|
732.000
|
54.540.000
|
15%
|
681.000
| |||||
April
|
42.000.000
|
21.000.000
|
1.320.000
|
19.680.000
|
74.220.000
|
15%
|
2.952.000
|
Mei
|
44.000.000
|
22.000.000
|
1.320.000
|
20.680.000
|
94.900.000
|
15%
|
3.102.000
|
Juni
|
45.000.000
|
22.500.000
|
1.320.000
|
21.180.000
|
116.080.000
|
15%
|
3.177.000
|
Juli
|
45.000.000
|
22.500.000
|
1.320.000
|
21.180.000
|
137.260.000
|
15%
|
3.177.000
|
Agustus
|
48.000.000
|
24.000.000
|
1.320.000
|
22.680.000
|
159.940.000
|
15%
|
3.402.000
|
September
|
50.000.000
|
25.000.000
|
1.320.000
|
23.680.000
|
183.620.000
|
15%
|
3.552.000
|
Oktober
|
52.000.000
|
26.000.000
|
1.320.000
|
24.680.000
|
208.300.000
|
15%
|
3.702.000
|
November
|
55.000.000
|
27.500.000
|
1.320.000
|
26.180.000
|
234.480.000
|
15%
|
3.927.000
|
Desember
|
56.000.000
|
28.000.000
|
1.320.000
|
15.520.000
|
250.000.000
|
15%
|
2.328.000
|
11.160.000
|
261.160.000
|
25%
|
2.790.000
| ||||
Jumlah
|
554.000.000
|
277.000.000
|
35.290.000
| ||||
Dalam hal Neneng Hasanah tidak dapat menunjukkan fotokopi kartu NPWP suami, fotokopi surat nikah dan fotokopi kartu keluarga dan Neneng Hasanah sendiri tidak memiliki NPWP, maka perhitungan PPh Pasal 21 dilakukan sebagaimana contoh di atas namun tidak memperoleh pengurangan PTKP setiap bulan, dan jumlah PPh Pasal 21 yang terutang adalah sebesar 120% dari PPh Pasal 21 yang seharusnya terutang dari yang memiliki NPWP sebagaimana penghitungan berikut ini:
Bulan
|
Penghasilan Bruto (Rupiah)
|
Dasar Pemotongan PPh Pasal 21 (Rupiah)
|
Dasar Pemotongan PPh Pasal 21 Kumulatif (Rupiah)
|
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh
|
Tarif tidak memiliki NPWP
|
PPh Pasal 21 terutang (Rupiah)
|
(1)
|
(2)
|
(3)=50%x(2)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
(7)=(3)x(5)x(7)
|
Januari
|
38.000.000
|
19.000.000
|
19.000.000
|
5%
|
120%
|
1.140.000
|
Februari
|
38.000.000
|
19.000.000
|
38.000.000
|
5%
|
120%
|
1.140.000
|
Maret
|
41.000.000
|
12.000.000
|
50.000.000
|
5%
|
120%
|
720.000
|
8.500.000
|
58.500.000
|
5%
|
120%
|
510.000
| ||
April
|
42.000.000
|
21.000.000
|
79.500.000
|
5%
|
120%
|
1.260.000
|
Mei
|
44.000.000
|
22.000.000
|
101.500.000
|
15%
|
120%
|
3.960.000
|
Juni
|
45.000.000
|
22.500.000
|
124.000.000
|
15%
|
120%
|
4.050.000
|
Juli
|
45.000.000
|
22.500.000
|
146.500.000
|
15%
|
120%
|
4 050.000
|
Agustus
|
48.000.000
|
24.000.000
|
170.500.000
|
15%
|
120%
|
4.320.000
|
September
|
50.000.000
|
25.000.000
|
195.500.000
|
15%
|
120%
|
4.500.000
|
Oktober
|
52.000.000
|
26.000.000
|
221.500.000
|
15%
|
120%
|
4.680.000
|
November
|
55.000.000
|
27.500.000
|
249.000.000
|
15%
|
120%
|
4.950.000
|
Desember
|
56.000.000
|
1.000.000
|
250.000.000
|
15%
|
120%
|
180.000
|
27.000.000
|
277.000.000
|
25%
|
120%
|
8.100.000
| ||
Jumlah
|
554.000.000
|
277.000.000
|
43.560.000
| |||
Dalam hal suami Neneng Hasanah atau Neneng Hasanah sendiri telah memiliki NPWP, tetapi Neneng Hasanah mempunyai penghasilan lain di luar kegiatannya sebagai petugas dinas luar asuransi, maka perhitungan PPh Pasal 21 terutang adalah sebagaimana contoh di atas, namun tidak dikenakan tarif 20% lebih tinggi karena yang bersangkutan atau suaminya telah memiliki NPWP.
V.2. CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH BUKAN PEGAWAI YANG MENERIMA PENGHASILAN YANG TIDAK BERSIFAT BERKESINAMBUNGAN.
Nashrun Berlianto melakukan jasa perbaikan komputer kepada PT Cahaya Kurnia dengan fee sebesar Rp5.000.000,00.
Besarnya PPh Pasal 21 yang terutang adalah sebesar:
5% x 50% Rp5.000.000,00 = Rp125.000,00
Dalam hal Nashrun Berlianto tidak memiliki NPWP maka besarnya PPh Pasal 21 yang terutang menjadi sebesar:
5% x 120% x 50% Rp5.000.000,00 = Rp150.000,00
V.3. CONTOH PENGHITUNGAN PEMOTONGAN PPh PASAL 21 ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH BUKAN PEGAWAI SEHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN JASA YANG DALAM PEMBERIAN JASANYA MEMPEKERJAKAN ORANG LAIN SEBAGAI PEGAWAINYA DAN/ATAU MELAKUKAN PENYERAHAN MATERIAL/BAHAN
Arip Nugraha melakukan jasa perawatan AC kepada PT Wahana Jaya dengan imbalan Rp10.000.000,00. Arip Nugraha mempergunakan tenaga 5 orang pekerja dengan membayarkan upah harian masing-masing sebesar Rp180.000,00. Upah harian yang dibayarkan untuk 5 orang selama melakukan pekerjaan sebesar Rp4.500.000,00. Selain itu, Arip Nugraha membeli spare part AC yang dipakai untuk perawatan AC sebesar Rp1.000.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang adalah sebagai berikut:
a. Dalam hal berdasarkan perjanjian serta dokumen yang diberikan oleh Arip Nugraha, dapat diketahui bagian imbalan bruto yang merupakan upah yang harus dibayarkan kepada pekerja harian yang dipekerjakan oleh Arip Nugraha dan biaya untuk membeli spare part AC, maka jumlah imbalan bruto sebagai dasar perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Wahana Jaya atas imbalan yang diberikan kepada Arip Nugraha adalah sebesar imbalan bruto dikurangi bagian upah tenaga kerja harian yang dipekerjakan Arip Nugraha dan biaya spare part AC, sebagaimana dalam contoh adalah sebesar:
Rp 10.000.000,00 - Rp 4.500.000,00 - Rp 1.000.000,00 = Rp 4.500.000,00.
PPh Pasal 21 yang harus dipotong PT Wahana Jaya atas penghasilan yang diterima Arip Nugraha adalah sebesar:
5% x 50% x Rp 4.500.000,00 = Rp 112.500,00
Dalam hal Arip Nugraha tidak memiliki NPWP maka PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Wahana Jaya menjadi:
5% x 120% x 50% x Rp 4.500.000,00 = Rp 135.000,00
b. Dalam hal PT Wahana Jaya tidak memperoleh informasi berdasarkan perjanjian yang dilakukan atau dokumen yang diberikan oleh Arip Nugraha mengenai upah yang harus dikeluarkan Arip Nugraha atau pembelian material/bahan, PPh Pasal 21 yang harus dipotong PT Wahana Jaya adalah sebesar:
5% x 50% x Rp10.000.000,00 = Rp250.000,00
Dalam hal Arip Nugraha tidak memiliki NPWP maka PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Wahana Jaya menjadi:
5% x 120% x 50% x Rp 10.000.000,00 = Rp 300.000,00
Catatan:
Untuk pembayaran upah harian kepada masing-masing pekerja wajib dipotong PPh Pasal 21 oleh Arip Nugraha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar